SATIRE TERHADAP
KAUM JOMBLO
oleh
Ifirlana Hermanto
Orang bisa memilih untuk hidup
menyendiri atau berpasangan, walaupun kadang-kadang pilihan-pilihan itu
melewati satu situasi: keterpaksaan. Tetapi setelah melewatinya, masing-masing
akan memiliki argumen mengapa ia memilih yang pertama atau yang kedua.
Masing-masing merasa nyaman (atau Lebih tepatnya terpaksa nyaman) dengan
posisinya.
Menjomblo bagi sebagian orang, bisa
menghindari pandangan pernikahan yang tak tentu seperti yang dikemukakan
Socrates: jika memiliki istri baik, sang suami akan bahagia. Tapi jika tidak,
ia akan menjadi filsuf. Proyeksi Socrates ini mudah dipatahkan dengan melihat
kasus Nietzsche misalkan. Untuk menjadi filsuf besar sepertinya, ia tak perlu
hidup berpasangan. Ia hidup menyendiri, bahkan soliter sepanjang hidupnya
setelah gagal menjalin cinta dengan Lou Salome. Di sini, argumen Socrates pun
runtuh.
Kaum yang memiliki pasangan pun tak
akan mau kalah. Ia akan berargumen semacam ini: Nietzsche memang menjadi filsuf
besar. Tetapi, apakah kesendiriannya menyenangkan? Apakah kesoliterannya yang
telah menghasilkan karya Die Geburt der Tragödie hingga yang fenomenal, Also
sprach Zarathustra, telah membuatnya bahagia?. Bukankah karya-karya itu justru
lahir dari penderitaannya sebagaimana dinarasikan dengan baik dalam film When
Nietzsche Wept (2007) karya Pinchas Perry? Ah, silakan tonton sendiri film ini
sedetail mungkin.
Narasi-narasi satire yang
diperuntukkan bagi kaum jomblo pun ditonjolkan dalam scene-scene
(adegan-adegan) film yang digarap Yorgos: The Lobster (2015). Di dalam film
ini, kaum jomblo diolok-olok sedemikian rupa, sehingga mudah mucul dalam
bayangan penonton: betapa menyedihkannya hidup menyendiri itu!
Alkisah, di sebuah kota,
diberlakukan peraturan yang mengharuskan bagi siapa saja yang hidup sendirian
untuk segera mencari pasangan. Mereka—sebut saja kaum jomblo—digiring ke sebuah
hotel di mana mereka bebas memilih pasangan yang dirasa cocok untuk dirinya. Tetapi,
tak mudah menentukan pasangan yang cocok. Karena yang ada di dalam hotel itu,
orang—orang yang sedari awal semacam terbuang dari kehidupan dengan
keganjilan-keganjilan yang dimiliki seperti wanita-wanita yang ditemui.
Tragisnya, keserasian-keserasian
(baik dalam hal fisik maupun karakter) seolah menjadi pertimbangan-pertimbangan
mendasar untuk menentukan pasangan, seperti terlihat bagaimana susahnya seorang
John (Ben Whishaw) yang berusaha menyerasikan dirinya dengan gadis mimisan. Ia
harus membenturkan hidungnya ke tembok atau bangku agar hidungnya berdarah seperti
gadis itu.
Dari sinilah para jomblo mulai
diolok-olok dengan nada satire yang menggelikan. Mereka diolok dengan
peraturan-peraturan hotel mulai dari yang sederhana sekali (dilarang
masturbasi) sampai paling berat (hanya tenggang waktu 45 hari untuk mendapatkan
pasangan. Jika tidak, akan diubah menjadi hewan, sekalipun bisa memilih akan
menjadi hewan apa). Yorgos menjadikan hidup seorang jomblo benar-benar
kehilangan daya tariknya. Betapa tidak, sekalipun cerita filmnya absurd, tetapi
keabsurdan itu justru menjadi kritik (lebih tepatnya menjadi olok-olok)
tersendiri. Akan diubah menjadi hewan bagi siapa yang tak berhasil mendapatkan
pasangan merupakan sesuatu yang menyedihkan bukan?
Lobster, hewan yang dipilih David
jika kelak tak berhasil mendapatkan pasangan. Baginya, menjadi lobster menjadi
daya tarik tersendiri. Sebab, satu ekor lobster bisa berumur panjang, bahkan
bisa mencapai 100 tahun; berdarah biru seperti aristokrat; dan karena alasan
pribadi: perenang. Namun bagi sang sutradara, Yorgos, menjadi lobster pun sama
menyedihkannya seperti jomblo. Kalau tidak beruntung, hewan akan menjadi
santapan lezat manusia di restoran-restoran mewah. Tak ada pilihan lain di
dunia ini selain hidup berpasang-pasangan.
Olok-olok Yorgos tak hanya berhenti
di situ saja, dan yang paling parah menurut saya saat sutradara itu dengan
menohok menampilkan adegan paling nyinyir ini: dalam satu kesempatan, di hotel
itu, dikumpulkanlah semua jomblo. Perkumpulan itu bisa diduga sebagai ajang
motivasi agar sesegera mungkin mereka mencari pasangan. Motivasi itu berupa
tampilan drama pendek. Menampilkan orang tua yang sedang makan di meja
restoran, lalu keselek. Namun betapa susahnya mengakhiri kemalangan itu, sebab
di hadapannya tak ada pasangan yang bisa membantu. Memang kesannya sederhana.
Kita—eh, maksud saya mereka yang jomblo—dengan mudah bisa mengatakan: tanpa
pasangan pun derita keselek itu bisa diatasi dengan meminta bantuan orang lain,
sekalipun bukan pasangan. Tetapi, bagaimana kalau berada di rumah yang memang
benar-benar menuntut bantuan pasangan seperti kasus David yang tak bisa
menjangkau punggungnya untuk diolesi salep karena seringkali dihinggapi rasa
nyeri?
Bagi kaum yang berpasangan, kaum
jomblo pun bisa beralasan semacam ini: situasi semacam itu juga bisa dialami
kaum berpasangan saat pasangannya tidak lagi bersama dirinya. Ah, kaum jomblo
memang banyak bicara; banyak alasan; terutama yang jomblonya sudah bawaan sejak
lahir..
Perlu dicatat, apa yang saya tulis
ini, bukan semacam serangan bagi dia atau mereka yang memilih untuk menjomblo.
Sebab, saya bisa menduga betapa sakitnya dinyinyirin semacam itu. Saya tak mau
menyakiti siapa pun.
Saya hanya menarasikan apa yang tak
terungkap dari film yang digarap Yorgos atau barangkali, akan menjadi gambaran
diskursus yang mungkin terjadi jika kaum jomblo dan kaum berpasangan dihadapkan
secara oposisional. Sekian
x
x
Tidak ada komentar:
Posting Komentar