Senin, 23 September 2019

DEMAGOG Agama


DEMAGOG AGAMA

Ifirlana Hermanto

Di sebuah Rumah Sakit di kota malang, suatu hari saya mengantri, sedikit demam dan flu berat melanda. Sejak ada BPJS pasien memang selalu penuh tiap hari. Semua mendapat akses berobat, dan kesehatan masyarakat meningkat(lumayan). Akhirnya tiba juga giliran saya, dipanggil masuk ke ruang dokter. Sepanjang di sana, terdengar audio murottal Quran menyala di sudut meja. Ia tampak sangat menjaga pandangannya, menghindar bertatap mata dengan saya. Bukan muhrim(sekilas itu dalam pikiran saya). Oke tak mengapa, kebetulan saya juga ingin periksa, bukan untuk tebar Pesona.
Sang dokter memeriksa seperlunya, lalu mulai bertanya kamu Kuliah dimana, SMAnya apa ?. "Di pesantren" jawab saya. Oh, bagus. Sudah hafal berapa juz? "bukan pesantren tahfidz" ujarku. Loh, walaupun bukan pondok tahfidz kamu harus bisa manfaatkan waktu untuk menghafal Quran. Harus diusahakan. Kamu mau masuk surga nggak? "Mau" kembali mejawab. Jangan-jangan kamu suka musik. Bener ya, kamu suka musik? "Iya" (dalam hati saya bergumam "apalagi dangdut, koplo, yangvterbaru didi kempot". Buat apa? Coba kamu pikir lagi. Musik itu kesenangan dunia. Kamu pilih dunia atau akherat? Sekarang tinggal pilih, musik atau Qur'an. Sekilas saya tersenyum hambar, mungkin sedikit risih karena dicecar.
Kala itu saya menahan diri saja. Teringat ajaran guruku: "innal mua'allima watthobiba kilahuma la yanshohani idza huma la yukroman". Sesungguhnya pada guru dan dokter ada kesamaan, keduanya tidak akan memberi nasehat bila yang di depannya tidak hormat. Baiklah! Sampaikan apa saja, Dok. Saya butuh resep obat anda. Sang dokter hijrah memang masih menambah materi dakwahnya. Mulai mengusik kesabaran saya. Ia pun melanjutkan. Sampaikan juga pada teman-temanmu, jangan-jangan ia tidak tahu. Hijab itu wajib hukumnya, perintah langsung dari Allah. Bukan dari Nabi atau ulama. Kalau kamu diam saja, kamu berdosa.
"Hijrah" yang kini populer, sebetulnya problematik. Saya bertanya pada yang seumur-umur di pesantren. Hijrah adalah tentang kepindahan Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Sejarah tentang muhajirin dan anshar. Tapi kini ada makna lainnya yang beda. Menjadi istilah pertaubatan hitam putih nasuha. Digaungkan oleh ustadz puritan berpandangan tekstual. Mengajak kembali pada Islam yang murni di jaman Nabi. Disambut oleh awam yang dahaga spiritualitasnya. Merasa semakin asketik semakin baik.
Terlupa bahwa ayat pertama "iqro" mendorong semangat: perubahan. Pembebasan dari masa kebodohan. Bagaimana cara manusia keluar dari situasi jahiliyah, bagaimana menjadi bijak dan pintar: dengan membaca dan belajar. Mengembangkan karya, menyalurkan kecerdasan seni, membangun budaya. Tetapi, bagi yang hijrah hal itu sebentar lagi dibilang: hubbudunya Akhiii. Hahaha.
Mungkin kamu menyaksikan sendiri. Sebab yang punya keluhan sama ada di mana-mana. Mulai mbak laundry, pekerja kantor sampai para profesor. Betapa ekspresi keagamaan sebagian orang sekarang seperti tak wajar lagi di sini. Memilih mengejar jadwal kajian liqo ketimbang menemani ibunya yang sakit, misalnya. Pria dan wanita yang "hijrah" berubah pola pikirnya. Apapun yang dilakukan, bisnis atau politik, paling senang mengatasnamakan agama. Bertahun-tahun kuliah perbankan memilih resign karena takut riba dan dosa. Menghindari transaksi pakai bank harus cash saja. Uangnya dicetak oleh siapa? Marak mencari sekolah hafal Qur'an. Padahal dalam psikologi pendidikan: menghafal adalah metode belajar paling rendah.
Jika di sini semakin kaffah ajaran hijrah, jangan berharap ada lagi bintang film seperti Chistine Hakim dan Dian Sastro (nama terakhir favorit saya). Tak ada lagi penyanyi seperti Raisa dan Maudy Ayunda (dua-duanya istimewa). Usai sudah cerita atlet wushu secemerlang Lindswell Kwok. Tak ada lagi penari seperti Nungki Kusumastuti, penyayi kroncong seanggun Sundari Soekotjo. Tak ada lagi gambaran ibu guru seperti di Laskar Pelangi. "Hijrah" telah mengakhiri banyak hal. Hingga mengubah tatanan sosial. Segregasi di mana-mana. Kamu mau ke Rumah Sakit syariah? Mulai ada. Dokter, pasien, penjaga, dan paramedis tak bisa lawan jenis. Asmaulhusna berjejer jadi pajangan, lambang Kota Agama. Pejabatnya korupsi tidak?

(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Reformasi Dikorupsi & Demokrasi Oligarki

  Di   pamungkas jabatan, DPR seolah ejakulasi dini menyelesaikan beberapa revisi undang-undang (UU) sekaligus. Pertama, revisi UU Kom...