DEMAGOG AGAMA
Ifirlana Hermanto
Di
sebuah Rumah Sakit di kota malang, suatu hari saya mengantri, sedikit demam dan
flu berat melanda. Sejak ada BPJS pasien memang selalu penuh tiap hari. Semua
mendapat akses berobat, dan kesehatan masyarakat meningkat(lumayan). Akhirnya
tiba juga giliran saya, dipanggil masuk ke ruang dokter. Sepanjang di sana,
terdengar audio murottal Quran menyala di sudut meja. Ia tampak sangat menjaga
pandangannya, menghindar bertatap mata dengan saya. Bukan muhrim(sekilas itu
dalam pikiran saya). Oke tak mengapa, kebetulan saya juga ingin periksa, bukan
untuk tebar Pesona.
Sang
dokter memeriksa seperlunya, lalu mulai bertanya kamu Kuliah dimana, SMAnya apa
?. "Di pesantren" jawab saya. Oh, bagus. Sudah hafal berapa juz?
"bukan pesantren tahfidz" ujarku. Loh, walaupun bukan pondok tahfidz
kamu harus bisa manfaatkan waktu untuk menghafal Quran. Harus diusahakan. Kamu
mau masuk surga nggak? "Mau" kembali mejawab. Jangan-jangan kamu suka
musik. Bener ya, kamu suka musik? "Iya" (dalam hati saya bergumam
"apalagi dangdut, koplo, yangvterbaru didi kempot". Buat apa? Coba
kamu pikir lagi. Musik itu kesenangan dunia. Kamu pilih dunia atau akherat?
Sekarang tinggal pilih, musik atau Qur'an. Sekilas saya tersenyum hambar,
mungkin sedikit risih karena dicecar.
Kala
itu saya menahan diri saja. Teringat ajaran guruku: "innal mua'allima
watthobiba kilahuma la yanshohani idza huma la yukroman". Sesungguhnya
pada guru dan dokter ada kesamaan, keduanya tidak akan memberi nasehat bila
yang di depannya tidak hormat. Baiklah! Sampaikan apa saja, Dok. Saya butuh
resep obat anda. Sang dokter hijrah memang masih menambah materi dakwahnya.
Mulai mengusik kesabaran saya. Ia pun melanjutkan. Sampaikan juga pada
teman-temanmu, jangan-jangan ia tidak tahu. Hijab itu wajib hukumnya, perintah
langsung dari Allah. Bukan dari Nabi atau ulama. Kalau kamu diam saja, kamu
berdosa.
"Hijrah"
yang kini populer, sebetulnya problematik. Saya bertanya pada yang seumur-umur
di pesantren. Hijrah adalah tentang kepindahan Rasulullah dari Makkah ke
Madinah. Sejarah tentang muhajirin dan anshar. Tapi kini ada makna lainnya yang
beda. Menjadi istilah pertaubatan hitam putih nasuha. Digaungkan oleh ustadz
puritan berpandangan tekstual. Mengajak kembali pada Islam yang murni di jaman
Nabi. Disambut oleh awam yang dahaga spiritualitasnya. Merasa semakin asketik
semakin baik.
Terlupa
bahwa ayat pertama "iqro" mendorong semangat: perubahan. Pembebasan
dari masa kebodohan. Bagaimana cara manusia keluar dari situasi jahiliyah,
bagaimana menjadi bijak dan pintar: dengan membaca dan belajar. Mengembangkan
karya, menyalurkan kecerdasan seni, membangun budaya. Tetapi, bagi yang hijrah
hal itu sebentar lagi dibilang: hubbudunya Akhiii. Hahaha.
Mungkin
kamu menyaksikan sendiri. Sebab yang punya keluhan sama ada di mana-mana. Mulai
mbak laundry, pekerja kantor sampai para profesor. Betapa ekspresi keagamaan
sebagian orang sekarang seperti tak wajar lagi di sini. Memilih mengejar jadwal
kajian liqo ketimbang menemani ibunya yang sakit, misalnya. Pria dan wanita
yang "hijrah" berubah pola pikirnya. Apapun yang dilakukan, bisnis
atau politik, paling senang mengatasnamakan agama. Bertahun-tahun kuliah
perbankan memilih resign karena takut riba dan dosa. Menghindari transaksi
pakai bank harus cash saja. Uangnya dicetak oleh siapa? Marak mencari sekolah
hafal Qur'an. Padahal dalam psikologi pendidikan: menghafal adalah metode
belajar paling rendah.
Jika
di sini semakin kaffah ajaran hijrah, jangan berharap ada lagi bintang film
seperti Chistine Hakim dan Dian Sastro (nama terakhir favorit saya). Tak ada
lagi penyanyi seperti Raisa dan Maudy Ayunda (dua-duanya istimewa). Usai sudah
cerita atlet wushu secemerlang Lindswell Kwok. Tak ada lagi penari seperti
Nungki Kusumastuti, penyayi kroncong seanggun Sundari Soekotjo. Tak ada lagi
gambaran ibu guru seperti di Laskar Pelangi. "Hijrah" telah
mengakhiri banyak hal. Hingga mengubah tatanan sosial. Segregasi di mana-mana.
Kamu mau ke Rumah Sakit syariah? Mulai ada. Dokter, pasien, penjaga, dan
paramedis tak bisa lawan jenis. Asmaulhusna berjejer jadi pajangan, lambang
Kota Agama. Pejabatnya korupsi tidak?
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar